Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin
Bagi penggemar anime Attack on Titan, hampir semuanya selalu berdebar-debar ketika menonton episode dimana Erwin Smith, Komandan Pasukan Pengintai, meneriakkan slogan andalan "Shinzou wo Sasageyo!", terlebih saat-saat dramatis ketika ia memimpin pasukannya untuk merebut kembali distrik Shigansina dan melawan beast Titan bersama tentara terbaik pulau Paradise lainnya.
Shinzou wo Sasageyo yang bermakna "persembahkan hatimu", menjadi slogan yang membakar semangat pasukan pengintai di series Attack on Titan setiap kali mereka menghadapi situasi yang rasanya sulit. Nah, tahukah kamu bahwa dalam dunia nyata, dalam sejarah Islam pula, generasi salafus shalih juga memiliki slogan-slogan hebat yang membuat mereka bersemangat dan menciutkan nyali musuh? Mari kita tadabburi bersama-sama.
Saat-saat darurat Badar bukan situasi yang biasa. Ia adalah peristiwa yang, saking ia di luar rencana dan persiapan, sampai-sampai digambarkan oleh Allah, "Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), niscaya kamu berbeda pendapat dalam menentukan (hari pertempuran itu)...", Namun kemudian hati Kaum Muslimin meneguh, jiwa mereka mengokoh. Sebab di saat krusial itu, justru iman mereka semakin menyala.
"Saat itu", tulis Ibnu Hisyam dalam sirahnya, "slogan sahabat-sahabat Rasulullah ï·º adalah: Ahadun Ahad!". Ketika musyrikin Quraisy membawa berhala-berhala dan panji mereka lalu bersorak-sorai, Kaum Muslimin meneguhkan hati mereka bahwa mereka sedang memperjuangkan risalah Allah yang Mahaesa; Ahadun Ahad! Di saat itu pula Rasulullah ï·º berdoa dengan kuatnya, "Ya Allah, jikalau Engkau tidak menangkan pasukan ini (Muslimin), maka Engkau tak akan lagi disembah di bumi ini selamanya."
Zaman pun berganti, tatkala Rasulullah ï·º telah wafat dan situasi mencekam sebab muncul pembangkang dan nabi-nabi palsu, berdirilah Khalifah Abu Bakr memecah suasana. Beliau utus batalion demi batalion dalam rangka memerangi mereka yang murtad setelah Rasul ï·º wafat. Usaha untuk memperbaiki keadaan itu dinamakan sebagai "Hurub Ar Riddah" (memerangi orang-orang murtad) dan slogan para sahabat saat itu adalah "Waa Muhammadaah!"
Bayangkan, betapa harunya hati para sahabat dengan keteguhan ketika mereka menyebut nama Rasulullah ï·º ketika menghadapi nabi-nabi palsu. Seakan-akan mereka berjanji: sebagaimana kami membela Rasul ï·º saat beliau hidup, kami pun akan mati-matian membela risalah beliau ï·º setelah wafat!
Ratusan tahun setelah peristiwa bersejarah itu, pernah ada pula masanya Umat Islam mengalami masa-masa mencekam. Saat itu tahun 1260, bangsa Mongol belum lama membumihanguskan Baghdad menjadi abu. Mata Mongol tertuju setelahnya ke arah Mesir; mereka berniat untuk melancarkan serangan ke bumi para nabi itu. Warga Mesir sempat merasakan shock. Mereka bingung harus melakukan apa karena mitosnya Mongol tak terkalahkan. Namun kau tahu apa yang terjadi?
Pemimpin mereka, Muzaffar Quthuz memilih untuk tetap tegak. Surat-surat ancaman dari Hulagu Khan berdatangan kepadanya, namun Quthuz bergeming. Ia tahu masyarakat Mesir dalam keadaan sangat takut, namun ia meyakinkan rakyat dan para pasukannya dengan sebuah kalimat yang menyejarah, "Man Lil Islami In Lam Nakun Nahnu?!"
"Siapa lagi yang akan membela Islam kalau bukan kita?!"
Slogan itu bagai panah yang tepat menancap di hati para panglima dan masyarakat Mesir. Dunia Islam sedang kalut, nyaris bagian timurnya telah hangus dan hancur. Tinggal Mesir yang menjadi harapan bagi selamatnya peradaban Islam kala itu. Slogan "Siapa lagi yang akan membela Islam kalau bukan kita?!" menginspirasi muslimin untuk akhirnya datang menghadapi Mongol di Perang Ain Jalut. Kemenangan pun didapatkan dan peradaban Islam terselamatkan.
0 Komentar